Belajar Epidemiologi

Tempat untuk belajar dan sharing mengenai Kesehatan Masyarakat khususnya Epidemiologi & Biostatistik

Surveillans Epidemiologi

Apa itu Surveillans ?
Menurut Control of Communicable Disease (CDC) Surveillans kesehatan masyarakat adalah suatu sistem pengumpulan, analisis, interpretasi, dan pengumpulan data yang berkelanjutan terkait kejadian kesehatan untuk digunakan dalam tindakan kesehatan guna mengurangi morbiditas dan mortalitas dan meningkatkan kesehatan 1
Pengertian ini juga sejalan dengan keputusan menteri kesehatan RI (2003) yang mendefenisikan Surveillans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan, penularan penyakit masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan2.

Kenapa harus melakukan Surveillans ?
Surveillans sangat penting dalam kesehatan masyarakat. Beberapa tujuan Surveillans untuk kesehatan masyarakat adalah untuk:
a.       Monitoring kecenderungan untuk memperhatikan perubahan dalam melakukan intervensi
b.      Deteksi dan prediksi kejadian luar biasa
c.       Melakukan evaluasi terhadap program pencegahan
d.      Memproyeksikan perencanaan pelayanan kesehatan

e.      Eliminasi eradikasi penyakit

Bagaimana menilai sebuah system Surveillans itu berjalan dengan baik ?

Dalam melakukan evaluasi penilaian sebuah system Surveillans dikatakan baik perlu adanya indikator atau kerangka dalam menilai system tersebut. WHO  merumuskan kerangka konsepsional evaluasi sistem Surveillans sebagai berikut


Kerangka Konseptual Evaluasi Sistem Surveillans menurut WHO3

Penjelasan mengenai kerangka konseptual evaluasi sistem surveillans bisa di download    .:disini:.

REFERENSI

1.    Magus M. Epidemiologi Penyakit Menular (Essentials of Infectious Disease Epidemiology). Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2011.
2.    RI D. Panduan Praktis Surveilens Epidemiologi Penyakit. Jakarta: Dirjen PPM & PL  Depkes RI, RI PPD;2003.

SIG dan Kesehatan



Sistem Informasi Geografis (SIG) memiliki kemampuan yang sangat cocok dalam pengendalian dan survailans penyakit-penyakit menular, terlebih lagi terhadap penyakit-penyakit yang erat kaitannya dengan lingkungan maupun vector yang sering kali ditemukan pada wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik tertentu. SIG juga sangat relevan dalam ikut memudahkan pekerjaan para petugas kesehatan khususnya dalam menangani keadaan kegawatdaruratan seperti wabah dalam hal memetakan kasus dan factor risiko potensial yang berhubungan dengan penyakit yang mewabah tersebut.
Akan tetapi baru beberapa saat belakangan ini penggunaan tools system informasi geografis di bidang kesehatan masyarakat mulai dikenal dan diaplikasikan. Terlambatnya pengimplementasian SIG di bidang kesehatan disebabkan oleh dua hal utama yaitu keterbatasan sumberdaya untuk menyediakan perangkat keras untuk mendukung pengimplementasian system informasi geografis tersebut, serta kompleksitas dari aplikasi/ software SIG itu sendiri sehingga untuk mengoperasikannya dibutuhkan waktu dan dana untuk mengekstraksi informasi yang berhubungan dengan pelaksanaan surveilans dan pengendalian penyakit..
Situasi beberapa tahun belakangan ini berubah sangat drastis, Sumber daya manusia (SDM) di bidang kesehatan sudah banyak yang ahli dalam menggunakan aplikasi ini  untuk penelitian dan menyajikan data masalah kesehatan di masyarakat. Pelatihan terkait GIS juga telah banyak dilakukan di bidang kesehatan, harga dari perangkat keras sudah sangat terjangkau, bayaknya alat-alat baru yang memudahkan dalam pemetaan seperti Global Positioning System (GPS) telah tersedia dimana-mana dengan harga yang juga relatif murah, penggunaan perangkat lunak serta aplikasi SIG juga semakin mudah yang memungkinkan praktisi kesehatan bisa mengoperasikannya tanpa kesulitan.
Saat ini SIG telah banyak memberikan kontribusi dalam sektor kesehatan. Salah satu institusi yang membuat analisanya adalah Center For Disease Control (CDC) yang mengungkapkan pemanfaatan SIG ke depannya, berdasarkan “Sepuluh Fungsi Pokok Sektor Kesehatan Masyarakat.” Berikut ini adalah beberapa contoh pemanfaatan SIG dalam bidang Kesehatan Masyarakat berdasarkan analisa CDC tersebut.

 1. Fungsi pertama :
Yaitu memonitor status kesehatan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Dalam mendukung fungsi ini, SIG dapat digunakan untuk memetakan kelompok masyarakat serta areanya berdasarkan status kesehatan tertentu, misalnya penyakit Malaria. Dengan SIG, peta mengenai kejadian malaria dapat digunakan untuk merencanakan program pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh kelompok atau wilayah tersebut, misalnya pelayanan pengobatan, Prophylaxis, atau pemberian kelambu oles dan sebagainya.


2. Fungsi kedua :
Yaitu mendiagnosa dan menginvestigasi masalah serta resiko kesehatan di masyarakat. Sebagai contoh, seorang epidemiologis sedang mengolah data tentang kasus asma yang diperoleh dari Rumah Sakit, Puskesmas, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya di masyarakat, ternyata dia menemukan terjadi kenaikan kasus yang cukup signifikan di suatu Rumah Sakit, maka kemudian dia mencari tahu data dari pasien – pesien penderita asma di Rumagh sakit. Ternyata ditemukan bahwa 8 dari 10 orang penderita asma yang dirawat di Rumah Sakit tersebut bekerja di perusahaan yang sama. Demikian seterusnya hingga kemudian SIG dapat digunakan untuk memberikan data yang lengkap mengenai pola pajanan di lokasi-lokasi  dalam suatu wilayah tertentu, yang merupakan informasi yang penting untuk para karyawan. Informasi ini juga dapat diteruskan kepada ahli – ahli terkait, dalam hal ini ahli K3 untuk melakukan penanganan lebih lanjut terhadap masalah yang ditemukan. 

3. Fungsi ketiga :
Yaitu menginformasikan, mendidik dan memberdayakan masyarakat mengenai isu – isu kesehatan. SIG dalam hal ini dapat menyediakan informasi mengenai kelompok masyarakat yang diidentifikasi masih memiliki pengetahuan yang kurang mengenai informasi kesehatan tertentu, sehingga kemudian dapat dicari media komunikasi yang paling efektif bagi kelompok tersebut, serta dapat dibuat perencanaan mengenai waktu yang paling tepat untuk melakukan promosi kesehatan kepada kelompok masyarakat tersebut.
 
4.     Fungsi keempat :
Yaitu membangun dan menggerakkan hubungan kerjasama dengan masyarakat untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah kesehatan. Dalam hal ini SIG dapat digunakan untuk melihat suatu pemecahan masalah kesehatan berdasarkan area tertentu dan kemudian memetakan kelompok masyarakat yang potensial dapat mendukung program tersebut berdasarkan area – area yang terdekat dengannya. Misalnya masalah imunisasi yang ada pada wilayah kerja tingkat Desa atau Posyandu, maka dapat dipetakan kelompok potensial pendukungnya yaitu Ibu – Ibu PKK yang dapat diberdayakan sebagai kader pada Posyandu – Posyandu yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

5.     Fungsi kelima :
Yaitu membangun kebijakan dan rencana yang mendukung usaha individu maupun masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan. Contohnya dalam hal analisa wilayah cakupan Puskesmas. Dalam hal ini SIG digunakan untuk memetakan utillisasi dari tiap – tiap Puskesms oleh masyarakat sehingga dapat dibuat perencanaan yang jelas mengenai sumber daya kesehatan yang perlu disediakan untuk Puskesmas tersebut disesuaikan dengan tingkat utilitasnya.

6.     Fungsi keenam :
 Yaitu membangun perangkat hukum dan peraturan yang melindungi kesehatan dan menjamin keselamatan masyarakat. Dalam hal ini SIG dapat digunakan untuk membagi secara jelas kewenangan dan tanggung jawab suatu pusat pelayanan kesehatan pada tiap – tiap wilayah kerja dalam menjamin dan menangani segala bentuk masalah yang terjadi di wilayah tersebut. Dengan demikian maka manajemen komplain dapat terkoordinir dengan baik.

7.     Fungsi ketujuh :
Yaitu menghubungkan individu yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan tersebut jika belum tersedia. Misalnya seorang warga negara asing diidentifikasi menderita suatu penyakit tertentu yang membutuhkan penanganan yang serius. Maka untuk mengatasinya, dengan melihat peta dan data akses pelayanan kesehatan yang tersedia dapat dicari tenaga kesehatan terdekat yang dapat membantu orang tersebut, dan menguasai bahasa yang digunakannya. Dengan data SIG juga dapat diketahui bagaimana akses transportasi termudah yang dapat dilalui oleh warga negara asing tersebut menuju fasilitas kesehatan terdekat.

8.     Fungsi kedelapan :
Yaitu menjamin ketersediaan tenaga kesehatan dan ahli kesehatan masyarakat yang berkompeten di bidangnya. Dalam hal ini SIG dapat menyediakan peta persebaran tenaga kesehatan dan ahli kesehatan masyarakat di tiap – tiap daerah, sehingga dengan demikian dapat dilihat jika ada penumpukan atau bahkan kekurangan personel di suatu daerah. Lebih lanjut, data tersebut dapat digunakan dalam hal perencanaan pengadaan tenaga – tenaga kesehatan untuk jangka waktu ke depan untuk masing – masing wilayah.

9.     Fungsi kesembilan :
Yaitu mengevaluasi efektifitas, kemudahan akses dan kualitas pelayanan kesehatan di masyarakat. Data SIG dapat menyediakan data yang lengkap mengenai potensi tiap – tiap daerah serta karakter demografis masyarakatnya untuk dihubungkan dengan fasilitas – fasilitas kesehatan yang tersedia dan tingkat utilitasnya. Dengan demikian dapat dievaluasi kembali kesesuaian dan kecukupan dari penyediaan sarana pelayanan kesehatan yang ada.

10.  Fungsi kesepuluh :
Yaitu penelitian untuk menciptakan penemuan baru dan inovasi dalam memecahkan masalah – masalah kesehatan di masyarakat. Salah satu kegunaan SIG dalam hal ini adalah untuk menyediakan data yang akurat mengenai perubahan – perubahan yang terjadi di suatu daerah seperti pertambahan jumlah perumahan, jalan, pabrik atau sarana - sarana lainnya yang berpengaruh pada lingkungan dan berpotensi mempengaruhi status kesehatan masyarakat. Data ini kemudian dapat digunakan untuk merancang dan merencanakan inovasi – inovasi tertentu yang dapat menjamin kesehatan suatu masyarakat.

Quantum GIS (QGIS) Merupakan perangkat lunak SIG berbasis open source dan free (gratis) untuk Keperluan pengolahan data geospasial. Quantum GIS adalah software SIG multi platform. Quantum GIS ini dapat digunakan untuk input data SIG dan pengolahan data geospasial sebagai pilihan alternatif dari software SIG komersial seperti ArcView, ArcGIS atau MapInfo Professional. Software ini relative lebih sederhana, lebih mudah untuk dipelajari bagi para pemula dan tersedia pilihan berbahasa Indonesia.

Untuk mendapatkan software QGIS silahkan klik   -disini-
Untuk bahan modul/panduan penggunaannya (english) silahkan klik   -disini-
Untuk modul QGIS v. 1.8 (bahasa Indonesia) silahkan klik link   -disini-

Autocidal Ovitrap : Alternatif Pengendalian Vektor DBD

Pengelolaan lingkungan atau mekanik yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat dalam mengendalikan vektor dengue adalah kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M (menguras, menutup dan menimbun) tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti . Kegiatan PSN sudah lama dilaksanakan namun hasilnya masih kurang dari yang diharapkan.
 Alternatif lain dalam pengelolaan lingkungan dalam upaya kegiatan pencegahan penyakit DBD adalah dengan memasang suatu alat yang disebut Oviposision trap (ovitrap). Alat ini pertama kali di kembangkan oleh Fay dan Eliason tahun 1966 , setelah itu Central for Diseases Control and Prevention (CDC) menggunakannya dalam kegiatan surveilans Ae aegypti. Ovitrap standar terbuat dari tabung gelas plastik (350 mililiter), tinggi 91 milimeter dan diameter 75 milimeter dicat hitam bagian luarnya, diisi air tiga per empat bagian dan diberi lapisan kertas, bilah kayu, atau bambu sebagai tempat bertelur. Cara ini terbukti berhasil menurunkan densitas vektor di Singapura dengan memasang 2.000 ovitrap di daerah endemis DBD 1.
Beberapa penelitian terkait ovitrap membuktikan bahwa ovitrap cukup efektif dalam pengendalian vektor DBD.  Penelitian yang dilakukan  Zeichner & Perich (1999) yaitu dengan membuat lethal/autocidal ovitrap (perangkap nyamuk yang mematikan) pada ovistrip diberi insektisida, hasilnya secara signifikan dapat mengendalikan populasi nyamuk Ae. aegypti 2. Modifikasi ini juga dilakukan oleh Tokan (2008) dengan menggunakan insektisida Cypermethrin dengan konsentrasi 5% menggunakan metode lethal ovitrap dapat membunuh nyamuk serta menurunkan daya tetas telur Ae.aegypti sebesar 70% 3.
Selain itu modifikasi ovitrap menjadi autocidal ovitrap juga dilakukan oleh Sithiprasasna et al (2003) di Thailand dengan memasang kasa nilon pada permukaan air di ovitrap, hasilnya mampu mengurangi populasi nyamuk Aedes aegypti 4. Hal serupa juga dilakukan oleh Sayono (2008) di kota Semarang modifikasi ovitrap yang dilakukan berhasil menangkap nyamuk lebih banyak pada atraktan yang berisi air rendaman udang5. Begitu pula yang dilakukan oleh Umniyati (2004) di Kabupaten Bantul, Autocidal ovitrap juga berhasil menurunkan angka HI, CI dan meningkatkan ABJ 6.
Salah satu modifikasi ovitrap yaitu dengan menambahkan zat atraktan tertentu, hal ini terbukti meningkatkan jumlah telur yang terperangkap. Penggunaan atraktan dari beberapa studi memperlihatkan prospek yang cukup baik dalam memantau dan menurunkan kepadatan vektor DBD 7, 8. Atraktan dapat berasal dari kandungan tanaman yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat atau bahan lain yang mempunyai aroma yang dapat menarik nyamuk untuk bertelur. Salah satu atraktan yang dapat menarik nyamuk untuk bertelur adalah atraktan air rendaman jerami. Polson et al (2002) menggunakan atraktan air rendaman jerami dan membuktikan jumlah telur yang terperangkap delapan kali lipat dibandingkan ovitrap standar7. Hal serupa juga dilakukan oleh Santos et al (2003) dengan menggunakan air rendaman jerami 10% dan dikombinasikan dengan Bacillus thuringiensis var israelensis (Bti) terbukti jumlah telur yang terperangkap  lebih banyak 9. Penelitian Autocidal ovitrap di Kabupaten Gunungkidul juga menunjukkan hal yang sama, rerata nyamuk yang terperangkap pada autocidal ovitrap dengan atraktan rendaman jerami lebih besar dua kali lipat dibandingkan rerata autocidal ovitrap dengan air biasa10.
Penggunaan autocidal ovitrap belum populer di kalangan masyarakat secara luas dan belum banyak digunakan sebagai alat untuk pengendalian populasi nyamuk Ae. Aegypti. Penggunaan autocidal ovitrap dan jerami sebagai atraktan pada daerah-daerah pertanian di Indonesia dapat dijadikan solusi pengendalian vektor berbasis lokal pada daerah-daerah endemis DBD. Selain sebagai alat pengendali vektor, autocidal ovitrap juga berfungsi untuk mengumpulkan data monitoring kepadatan vektor dan adanya potensi penularan vertikal secara transovarial di suatu daerah11, 12. Bahkan penelitian Gama et al, (2007) di Brazil menunjukkan hasil  bahwa ovitrap lebih seinsitif daripada survey larva dalam mendeteksi keberadaan nyamuk Aedes sp 13, sehingga program pengendalian vektor terpadu dan deteksi dini penularan bisa dilakukan lebih cepat.  Mengatasi masalah dengan sumber daya lokal merupakan cirri Kesehatan Masyarakat.


 Artikel Lengkap Silahkan Download .:Disini:.

REFERENSI

13.   Gama RA, Silva EM, Silva IM, Resende MC, Eiras ÁE. Evaluation of the sticky MosquiTRAP™ for detecting Aedes (Stegomyia) aegypti (L.) (Diptera: Culicidae) during the dry season in Belo Horizonte, Minas Gerais, Brazil. Neotropical Entomology. 2007 2007/04//;36(2):294-302.